Headlines News :
Selamat atas dilantiknya PRESIDEN RI "Ir H. JOKO WIDODO" dan WAKIL PRESIDEN RI "KH. MA'RUF AMIN" (Periode 2019 –2024)
SELAMAT DATANG DI WEBSITE RADAR MINGGU (CERDAS. TAJAM. AKTUAL)
Home » , , » KEARIFAN MASYARAKAT LOKAL SEMARANG DALAM MEMPERKOKOH KETAHANAN BANGSA

KEARIFAN MASYARAKAT LOKAL SEMARANG DALAM MEMPERKOKOH KETAHANAN BANGSA

Written By Radar minggu on Tuesday, March 21, 2017 | March 21, 2017



Oleh : Djawahir Muhammad (Budayawan)
Bag : 1
Semarang,  RM. –
Masyarakat Semarang adalah bagian dari masyarakatpesisir, suatu masyrakat berciri kota (Kosmopolitan) yang memiliki ciri ciri egaliter, religious, entrepreneur, equality dan mandiri (Djawahir, 2016; 104). Masyarakat Semarang juga juga suatu komunitas yang terdiri dari beragam etnis: ada orang Melayu, Jawa, China, Arab, Eropa dan berbagai subetnis : Batak, Madura, Banjar sehingga melahirkan suatu bentuk kebudayaan atau kearifan lokal yang lazim disebut sebagai multikulturalisme atau pluralisme (Banks, 1998), atau hybryd culture (cancliny,2007), sedangkan perkawinan campuran (antar etnis) yang terjadi diantara mereka (China- Jawa) melahirkan suatu genreyang diistilahkan oleh Ong Hok Ham sebagai budaya peranakan/descendant-culture.Perkawinan antara perempuan jawa dengan orang Belanda melahirkan suatu generasi yang disebut indo, sedangkan persentuhan bentuk kedua budaya diintrodusiroleh Soekimansebagai  budaya indis (Soekiman,2000).
Tetapi masyarakat Semarang sejatinya adalah orang jawa (Pesisiran) yang memliki tradisi / kearifan lokal yang spesifik. Pertama, tradisi lokal Semarang buah perpaduan budaya Islam dengan budaya Jawa yang melahirkan tradisi Islam Kejawen atau Sinkretisme (Simuh). Dalam berkesenian, perpaduan budaya Jawa dan Islam di Semarang dapat dilihat dari (musik) Terbangan, Dugderan, atau Nganten Kaji. Sedangkan relasi antara budaya Jawa dengan etnis Arab dan etnis Tionghoa dapat dilihat dari keragaman penduduk di berbagai wilayah/kampung etnis (kampung Pertolongan, Pecinan, Banjar), motif dan warna klain batik Semarangan yang berwarna cerah, nama nama makanan (Lunpiah, ristafel, kebuli, gele dsb), klai dari peredua, interaksi dari berbagai elemen budaya tersebut telah membentuk kearifan lokal semarangan, mulai dari dolanan bocah hingga bahasa pergaulan, system sosial, upacara/ritual keagamaan, keselarasan / harmoni kehidupan antar etnis, dst.

Masalah
Keragaman etnis, budaya , Agama , Bahasa dan kearifan kearifan lokal yang lain adalah bentuk bentuk multikulturalisme yang mempersentasekan kekayaan budaya Nusantara . keragaman budaya tersebut adalah dipadukan melalui simbol Negara Bhineka Tunggal Ika, menyatukanya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Teapi dalam beberapa peristiwa, spirit kesatuan dalam keberagaman itu telah ternoda oleh bermacam macam penyebab, mulai dari perbedaan idiologi semisal peristiwa G 30 S tahun 1965, sentiment rasial tahun 1968, sentiment Agama, jurang ekonomi yang terlalu lebar, kerakusan sam, yaitu turunya kualitas moral dari berbagai elemen bangsa ini. Dalam bahasa di dunia moralitas dan pendidikan, kualitas moral atau moralitas dikenal sebagai budi pekerti. Bersambung .... (gik)
Share this article :

Translate

Hot News

 
Copyright © 2000. Radar Minggu - All Rights Reserved